Kamis, 25 September 2008

Ramadhanku yang Hilang

Entah harus sesedih apa aku hari ini, karena tak terasa ramadhan kan meninggalkanku. sedangkan apa yang sudah aku isi selama ramadhan ini. Aaah rasanya gersang, hampa tak berisi.. aku sungguh merindukan suasana hati ramadhan, akankah ramadhan dapat kuraih dengan sebaik mungkin. aku tak tahu.
Perlahan, hari demi hari semakin mendekatkan aku untuk meninggalkan ramadhan. Bukan, bukan ramadhan yang meninggalkanku melainkan aku yang meninggalkan ramadhan. Ramadhan hadir, namun aku tetap merasakan kekeringan yang begitu sangat. Oh tuhan apakah hatiku sudah buta, apakah hatiku sudah mati hingga tak dapat kurasakan gairah ramadhan yang selama kunanti. Aaah aku rindu ramadhan, dapatkah kuraih kembali ramadhan.
I miss u Ramadhan, semoga aku masih dapat merasakan geliat ramadhan di detilk-detik terakhir bersama ramadhan.

Senin, 22 September 2008

Walau Habis Terang

KotaSantri.com : Berjuta langkah telah terlalui, silih
berganti mewarnai nuansa jiwa. Terkadang ku merantau
menjauh akan rasa sakit yang terberi. Tapi ku juga
merantau tuk mengisi khasanah dalam jiwa. Dalam
langkahku walau malam terkadang menutup pandangan,
tapi ku tetap berjalan meraih cahaya.

Berjuta jarak telah tertempuh di sini, silih berganti
cerita yang tertulis dengan pasti. Perlahan mengendap
dalam pikiran dan hati. Ada rasa akan kehilangan yang
terberi, ada rasa akan sakit yang tak kuingini, tapi
kucoba memeluk tubuh waktu tuk menguatkanku dan
biarkan semuanya memudar.

Jalan yang dilalui tak selamanya berada di atas. Jalan
yang dilalui tak selalu terang menerangi. Maka walau
habis terang ku tetap melangkah. Walau habis terang ku
tetap tersenyum. Tersenyum untuk mereka dan untukku.
Mengangkat yang terjatuh, menguatkan yang meluruh, dan
meraih hikmah yang tertempuh.

Dalam kuasaNya, hidup bukan hanya untuk saat ini, maka
berjalanlah untuk mensyukuri. Dalam kuasaNya, kita tak
kan pernah memiliki yang bukan untuk kita miliki, dan
kita tak kan kehilangan jika memang itu kehendak
dariNya untuk kita miliki dan jaga. Lalu biarkan
semuanya seperti seharusnya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

(Berjalanlah, walau habis terang. Ambil cahaya cinta
tuk terangi jalanmu... dan kau tetap benderang)

taken from milis karismatic.
Penulis : Achmad Fachrie

Senin, 15 September 2008

Tn Lebah dan Tn Nyamuk

“Huaaahhhh musim hujan sudah datang, pesta pun akan segera dimulai. Kira-kira santapan yang seperti apa yang akan kunikmati malam ini. Bahagianya hatiku bila malam kan menjelang karena its party time…. Hehehe…. Walau di pagi hari aku tetap dapat menikmati buruanku dengan enaknya, namun tetap tidak senikmat saat malam hari. Karena di malam ini ku bisa dengan menikmati jamuan makan malam tanpa perlawanan. Nah itu dia buruanku malam ini…. Mmmm yummy…. Lezatnya makan malamku hari ini.” Begitulah tuan nyamuk menikmati hidupnya.

Lain lagi dengan tuan lebah… “Yeee….. pagi menjelang…. Aku bebas terbang berkelana ke seluruh penjuru dunia. Menikmati serbuk-serbuk yang dihasilkan oleh para bunga. Begitu kuhirup bunga-bunga itu semakin indah dengan pesonanya yang menakjubkan. Aku terus berkeliling mencari bunga-bunga yang sedang menunggu kehadiranku. Zzzzzzzzzztttttt tak terasa tubuhku sudah penuh dengan serbuk sari. Its time to go home.. ya saatnya untukku kembali ke sarang.”

Kita tahu bahwa tuan nyamuk maupun tuan lebah sama-sama banyak pekerjaan. Dua-duanya punya alasan sendiri mengapa mereka diciptakan. Mereka juga selalu sibuk. Tetapi, pada akhirnya, apa yang keduanya hasilkan?

Aku teringat dengan ungkapan Mary O’Connor yang kubaca dalam salah satu buku kesukaanku; ia memberi petunjuk :

Sebenarnya masalahnya bukan sesibuk apa kalian, melainkan untuk apa kalian sibuk. Si lebah di puji. Si nyamuk ditepuk…

Ungkapan yang cukup menarik bukan? Bagaimana tuan lebah bisa di puji sedangkan tuan nyamuk ditepuk? Keduanya memang berbeda, beda dengan usaha serta apa yang mereka hasilkan. Jika tuan lebah dapat berguna serta menghasilkan banyak sekali keuntungan dalam setiap tindakan mereka. Sedangkan nasib si tuan nyamuk harus berakhir dengan kematian dalam setiap tindakan mereka dan apa hasilnya?

Demi masa. Sungguh, manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran, saling menasehati supaya mengamalkan kesabaran. "(Al-Ashr:103)

Sungguh, manusia dalam kerugian. Dan apakah aku termasuk didalamnya? Apakah akulah si tuan nyamuk yang selalu sibuk dengan urusanku sendiri namun hanya sia-sia yang kudapati. Hingga akhir kehidupanku, aku dapati tiada kebaikan yang dapat ku hasilkan. Aku ini mungkin bukan hanya sudah membuang-buang waktu yang pernah kupunya melainkan lebih buruk lagi.

Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad (SAW) pernah berkata, “Ada dua karunia yang dilewatkan banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu bebas untuk berbuat kebaikan”

Astaghfirullah, sepertinya aku harus belajar banyak pada Tn Lebah, bagaimana makhluk hidup itu sejak terlahir sudah memahami seluruh tugas yang menjadi tanggung jawabnya? Bagaimana seekor lebah, yang 4 atau 5 hari sebelumnya adalah larva, dapat berpikir dan merencanakan segala tugasnya tersebut? Bagaimana tubuhnya dapat dengan tiba–tiba menghasilkan lilin dan berubah menjadi pekerja konstruksi? Padahal konstruksi bangunan ini didasarkan pada penghitungan rumit dan sangat tepat, yang tak akan mampu dilakukan oleh manusia sekalipun.

Ya Allah selama ini aku mengira bahwa Tn waktulah yang cemburu padaku. Padahal bukankah Allah telah memberikan kita waktu yang sama yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. lalu mengapa aku seolah kejar-kejaran dengan waktu untuk menyelesaikan tanggung jawabku.

Bukankah seharusnya aku bisa berjalan dengan serasi dengan waktu jika aku mampu mengoptimalkan dan potensi yang kumiliki untuk memberi yang terbaik. Ya sekarang aku mengerti. Bukan karena sang waktu, namun tujuan dan keyakinan yang jelaslah yang menjadikan Tn Lebah dipuji atas usaha mereka, dan bukanlah ditepuk. Dan aku akan berusaha untuk terbang dengan serasi dengan sang waktu.

Rabu, 10 September 2008

Telur dan Cangkangnya

Seperti biasa taman kanak-kanak di depan rumahku riuh sekali. Canda, tawa serta kegaduhannya membuat suasana semakin ramai. “Teng…teng…” bel tanda masuk berbunyi, Bu Heni dan bu Han memanggil anak-anak masuk ke dalam ruangan dengan nyanyian “Aku anak Muslim, selalu gembira dengan cita-cita yang luhur mulia, bertakwa pada yang Maha Esa, Allah Maha Pencipta kita semua.” Anak-anak pun segera berkumpul dan satu persatu duduk di karpet. Namun di ujung saung terlihat masih ada empat anak yang masih asyik bermain. Aisha dengan Nadwa yang sibuk dengan lomba larinya, Rian yang masih asyik bermain dengan boneka naruto yang baru dibelinya, dan Raihan yang sedang asyik memberi makan kelinci di halaman.
Bu han pun segera memanggil Aisha, Nadwa, Rian dan Raihan untuk segera masuk karena waktu istirahat telah selesai. Tiba-tiba Rian memukul Raihan, sehingga Raihan menangis tersedu-sedu. Bu Han pun segera berlari menuju tempat kejadian, begitu pun Aisha dan Nadwa. Bu Han bertanya, mengapa Rian memukul Raihan. Rian berkata “Raihan mengambil narutonya”, seketika Raihan menjawab “Aku kan hanya pinjam” tanpa menghentikan tangisannya. Bu han pun segera melerainya, dan meminta Aisha dan Nadwa untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain. Sedangkan Bu Han meminta Rian dan Raihan untuk duduk dan menyelesaikan masalahnya. Aisha dan Nadwa yang sedang asyik melihat kejadian tersebut pun pergi ke kelas sambil mengucap “Dasar Cengeng”. Bu han yang mendengar kalimat tersebut meminta Aisha dan Nadwa untuk segera masuk kelas.
Setelah Bu Han, Rian dan Raihan menyelesaikan masalahnya, mereka pun segera bergabung dengan Bu Heni dan teman-teman yang lain. Ternyata hari ini Bu Heni membawa tiga butir telur yang siap untuk dimasak. Bu Heni meminta Aisha untuk memecahkan telur ke dalam mangkok yang sudah disiapkan di depannya. Sedangkan untuk dua telur yang lain di pecahkan oleh Rana dan Fathia. Bu Heni bertanya “Apa yang terjadi dengan telurnya?”, serentak anak-anak pun berkata “Telurnya pecah bu..”. “Bu, telurnya terbelah menjadi dua, dan aku bisa melihat kuning dan telurnya masuk ke mangkok.” Ujar Rana.
“Bagus sekali, Nah sekarang kalian siap? Siapa diantara kalian yang bisa mengatakan kepada ibu bagaimana caranya agar ibu bisa mengembalikan isi telur kedalam cangkangnya?”
Suasana kelas menjadi hening, sang guru tersenyum dan menggoda anak-anak itu. “Ayo, Ibu menunggu jawaban kalian….”
“Bu heni, kita tidak bisa mengembalikan isi telur itu, kan?” Tanya Rian yang penasaran.
“Menurutmu bagaimana?” Bu heni balik bertanya.
“Tidak bisa bu, kurasa tidak akan bisa” jawabnya dengan hati-hati.
“Bagus, Excellent Rian. Kita tidak bisa membuat telur itu utuh lagi. Dan kalian tahu sebabnya? Sekali sebutir telur pecah, dia akan tetap pecah.” Tutur bu hen sambil menoleh kepada Rian dan Raihan. Begitu juga dengan kata-kata. Setiap kali sepatah kata keluar dari mulut kita, kata itu tidak akan pernah bisa kembali. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dengan apa yang kita katakan kepada orang lain. Kata-kata bisa menyakitkan, persis seperti ketika kita memecahkan telur.”
Tiba-tiba Rian beranjak dari tempat duduknya dan mendekati tempat duduk Raihan seraya berkata “Maafin aku yach karena telah menonjokmu..”. Raihan pun menyambut tangan Rian dan berkata “aku juga minta maaf karena mengambil mainanmu.” Aisha pun tak ketinggalan meminta maaf pada Raihan karena telah mengatai nya cengeng.
Dan suasana kembali gaduh karena semua bersiap-siap untuk menggoreng roti yang dilapisi dengan telur.

Sakitnya pukulan mungkin bisa hilang dalam beberapa waktu, namun bagaimana dengan hati? Jika kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata menyakiti saudara kita? Lalu dengan cara apa kita mengembalikannya? Dengan apa kita menghapusnya? Sudah berapa telurkah yang sudah kita pecahkan? Bagaimana mengembalikannya?
Wallahu’alam

SMS to The Heaven

Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal baik untukmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal tidak baik untukmu. Al Baqarah :216
Putri berkata padaku bahwa “Allah sangat mencintaiku, Ia selalu mengajariku tentang hidup dan Dialah guru sejati untukku.” Di lain kesempatan kembali ia mengirimkan sms nya padaku “Allah create me to be a taff and a struggle women.” Begitu optimisnya ia menghadapi hidupnya. Hidup yang mungkin jika aku jadi dirinya belum tentu mampu untuk menghadapinya. Namun disetiap sms yang ia kirimkan padaku, seperti memberi jawaban padaku untuk menjadi lebih taff untuk setiap masalah yang ku alami. Tiap kita memiliki masalah masing-masing, tinggal kita yang menyikapinya dengan bijak. Ah sobatku, sungguh kau seolah tahu apa yang sedang kurasakan saat itu. Bahkan d isms terakhirmu kau mengucapkan selamat padaku. Sebuah ucapan yang ringan namun penuh dengan makna. “Congratulation, kau telah diajar langsung oleh si Pemilik Hidup.”
Sungguh, aku jadi iri padamu karena kau memiliki semangat yang luar biasa. Kau mampu menghadirkan ruh baru di dalam jiwa yang kering kerontang. You are my inspiration, did you know that. Dan aku sungguh merindukan hadirnya soulmate, kawan, sahabat sepertimu. Walau entah terdengar berita yang tak enak di dengar, namun kau tahu aku percaya padamu. Aku percaya, kau takkan menggadaikan Dienmu pada makhluk-makhluk yang menginginkan harta untuk penebus dosa.
Dan biarlah orang mau bicara apa tentang dirimu nun jauh di sana, namun aku akan selalu percaya padamu. Seperti aku percaya bahwa Kita adalah orang-orang yang beruntung. Beruntung karena memiliki Guru yang takkan pernah meninggalkan kita, Guru yang tidak memiliki khilaf, Guru yang meniupkan cinta di hati kita, Guru yang tidak pernah tidur, Guru yang menuntun kita agar tak terjerumus dalam lembah melalui Surat CintaNya. Tidak seperti guru-guru lain yang mungkin sudah melupakan kita, saat waktu dan jarak memisahkan.
Satu hal lagi yang putri ungkapkan padaku “menangislah sebelum kau tertidur karena kau tidak pernah tahu apakah setelah matamu terpejam setelah itu kau masih dapat menghirup udara dunia yang fana ini atau tidak.” Aaah sungguh aku sangat merindukan kata-kata itu, sungguh aku sangat merindukan saat-saat aku dapat menangis setelah surat cinta dari Guru telah terbaca. Oh putri semoga kita takkan surut dimakan zaman yang menakjubkan ini hingga tidak terwarnai dengan warna-warni dunia.
I miss you…..

My Picture